Senin, 23 Oktober 2017

Anak Langit



ANAK LANGIT
Fe Mahdi Selian
Bila langit masih menerima bintang, aku ingin menjadi bintang yang lain. Yang tak perlu dilihat orang. Asal aku bisa berada di ladang meteor itu dan berbenturan. Menerjunkan diriku kedalam perjudian hidup yang belum  akan habis. Sebelum suara menggelegar  yang besar menghancurkan segala sesuatunya. Menjadikan semuanya berbenturan satu dengan lainnya dan mencapai  titik akhir yang dia titik awal yang lain bagi manusia fana sepertiku.
Menuju pintu yang lain. Yang dijanjikan sebuah kekekalan. Penuh dengan keindahan yang tak membosankan. Seperti wajah pak guru Apit yang tak berbentuk itu. Rasanya aku ingin meludahinya saja. Atau membuang kotoranku yang masih panas tepat diwajahnya yang kaku itu.
Busuk, kau!
Bulan yang damai itu selalu memberiku inspirasi agar aku damai sepertinya. Tetap pada pendiriannya dan tetap menyinari siapa saja. Dia tak mau berebut tempat dengan Matahari yang panas. Kulihat langit sangat penuh kedamaian dan penuh pengertian.
Bilalah boleh, aku ingin terbang ke langit, bertamu kepada bulan lalu bertanya tentang keindahannya yang menakjubkan disaat bulan berumur lima belas hari. Lalu melambaikan tangan kepada matahari sambil tersenyum. Aku ingin mengepakkan sayapku terbang mengunjungi setiap bintang-bintang. Menaburkan cinta dan kasih sayang.
Cinta dan kasih sayang sudah tak kutemukan lagi di bumi yang gersang panas ini. Semua saling menyalahkan. Semua merasa benar.
Semilir angin sudah tak kutemukan lagi sejak aku mengenal pak guru Apit yang tolol itu. Dulu aku pernah merasakan belaian angin sore yang melankolik disaat pak guru Mustafa mengajar dikelasku. Tapi dia didepak karena dituduh korupsi. Padahal menurutku dia tidak pernah korupsi. Adakah orang yang dituduh mengorupsi uang Biaya Operasional Sekolah datang kesekolah dengan speda Ontel busuk warisan entah berantah? Bayangkan saja!
Lalu diapun dipecat dan digantikan Pak guru Apit sialan itu!
Setiap pagi kami harus menjalani serangkaian penyiksaan yang tidak manusiawi. WC busuk selalu menjadi hukuman favoritnya setelah push up atau jalan jongkok. Brengsek sekali!
Kami pernah berdemo didepan kantor sekolah meminta pak guru Apit diganti saja. Tapi kami malah dimaki dan diancam oleh semua guru-guru. Tak ada yang membela kami seperti pak guru Mustafa.
“apa-apaan kalian ini?” kata seorang guru yang juga tak punya peri kemanusiaan.
“Kalian pikir ini terminal, ha?” timpal guru yang lain.
“Kalian itu dididik untuk menjadi orang yang manut, nurut, patuh! Ga seperti ini! Kalian seperti kebo. Ga bermoral! Berandal! Ga punya sopan santun.”
Puih!! Busuk sekali mulutnya berbicara sopan santun. Apa dia pikir dia sudah sangat sopan dengan makian-makiannya itu? Apa dia pikir dia sudah cukup berpendidikan dengan menanggapi tuntutan kami dengan sumpah serapah yang bau itu? Tidak! Tidak sama sekali.
Siang itu semua murid mogok belajar didepan kelas. Tak ada yang mau masuk dan belajar. Tapi, guru-gurunya malah kumpul-kumpul di kantin sambil cekikikan.
“Sekali-sekali libur kan ga apa-apa.” Kata seorang lelaki. Aku tebak itu pasti suara pak guru Apit bajingan itu.
“Ya, ya, sering-sering juga tak apa.” Timpal seorang guru yang diikuti gelak tawa semua guru-guru. Lelaki dan perempuan. ah, tak ada bedanya mereka.
“Ini, anak-anak edan ini, ternyata bermanfaat juga.” Kata seorang guru yang entah suara siapa. Suaranya agak berat seperti dibuat-buat. Dan kembali tawa itu menggelegar.
Kamipun pindah kedepan kantin dan meneriakan yel-yel anti pak Guru Apit. Sebagian teman ada yang sudah sangat jengkel karena tak ada respon positif dari dewan guru.  Termasuk aku. Dan tanpa kusadari tanganku sudah menggenggam sebuah batu. Dalam hitungan detik saja batu itu melayang menuju meja makan dewan guru.
Prang!!! Gelas-gelas diatas meja itu pecah berantakan. Seperti sebuah komanda, batu-batu yang lain mulai berterbangan kearah kerumunan guru-guru busuk itu. Ibu-ibu guru berteriak berlarian menjerit-jerit, kulihat pak Guru Apit menutupi kepalanya dengan sebuah piring kaca yang kemudian pecah, Prang!! Terkena lemparan batu entah siapa.
Mereka  kocar-kacir. Beberapa guru perempuan tumbang menabrak kursi pelastik dan tersungkur. Tapi batu-batu itu terus berterbangan memecahkan setiap kaca yang dihampirinya. Pak guru Hasan berusaha melarikan diri kedalam sebuah tong sampah yang lumayan besar. Tapi tak sempat. Sebuah batu memecahkan kepalanya. Darahnya muncrat dan diapun tersungkur.
Itu sudah sangat tidak terkendali dan kami merengsek masuk memukuli setiap guru yang kami temui. Sumpah serapah kami lontarkan bak semburan pipa air yang bocor terkena peluru.
Tiba-tiba aku berteriak, “Berhenti!!!”  “Cukup! Cukup!”
Saat itulah polisi datang mencidukku. Aku diseret seperti seekor babi mati yang tak berharga. “Brandal! Berandal!” beberapa temanku yang lain juga diseret tanpa ampun. Kami dimasukkan kedalam sebuah truk reo yang bau.
“Kalian tidak berpendidikan!” bentak seorang polisi yang bernama Agus Wamono.
“Kami hanya ingin dimanusiawikan, pak polisi,” kata seorang temanku yang mukanya berdarah-darah entah kenapa.
“Tapi kalian tidak manusiawi!” bentaknya kepada temanku itu.
“Guru-guru mata duitan itulah yang tidak manusiawi!” timpalku.
“Diam kau!” bentaknya sambil mendaratkan sepatu PDL tepat diwajahku. Duniaku gelap dan tak tahu lagi apa yang terjadi.
Ketika terbangun, sayup-sayup aku mendengar suara orang menyebut namaku dan menjadi awal petaka bagiku. Itulah sebabnya aku ingin menjadi bintang saja. Biar aku bisa damai dengan langit yang penuh keajaiban. Biar aku bisa melayang hampa tanpa beban di ruang angkasa dan tak dilihat. Oleh siapapun. Bahkan orang tuaku sendiri.
Bila aku bintang disana, aku tak perlu takut tidak dianggap anak oleh siapapun. Aku tak perlu takut dianggap berandal dan tak bermoral oleh siapapun. Aku tak perlu merasa risau dengan penilaian miring orang tuaku yang kemudian mencampakkanku.
Ah, masa bodoh!
Apakah aku anak jalanan? Bukan! Aku adalah anak langit yang setiap malam memandangi langit. Ketika aku keluar dari penjara, beberapa temanku juga sudah keluar dari penjara. Beberapa dari mereka bernasib sama sepertiku. Tak dianggap lagi. Beberapa yang lain bernasib mujur memiliki orang tua yang berhati langit. Luas dan lapang yang bisa melihat dari segala sisi. Tidak gegabah! Emosional! Dan amburadul!
“Dua guru kita cacat, kawan!” kata temanku kepadaku. Aku terkekeh saja.
“Pak hasan gegar otak!”
“O, ya? Bagaimana dengan si Apit bajingan itu?”
“Entah!”
Jawaban itu sangat tidak memuaskanku. Terus terang aku sangat berharap dia mati saja. Tapi, sudahlah. Sekarang yang paling penting kupikirkan adalah, dimana aku akan tinggal.
Malam yang larut membawaku jalan sangat jauh. Udara yang dingin membuatku sanggup berjalan sejauh-jauhnya yang aku mau. Melewati orang-orang yang meringkuk kedinginan diatas trotoar jalanan. Lalu sesekali aku terduduk di atas sebuah bangku taman yang tak terurus bersama orang-orang lain yang menatap hampa entah kemana.  Diseberangku ada seorang Ibu yang pakaiannya tak karuan, rambut panjangnya kusut minta ampun, sebuah tubuh mungil meringkuk membuat setengah lingkaran diatas pahanya. Nyaris tak bergerak.
Bumiku memang sangat gersang. Bumiku entah bagaimana aku memikirkan keindahanya lagi. Tak kutemukan.
Aku melanjutkan jalanku sambil mengeluarkan gumpalan nafas yang berat. Aku berusdaha menata pikiranku dan harapanku. Aku tak akan memikirkan rumah dan berharap kembali lagi. Aku bisa hidup dimanapun. Aku bisa eksis selagi langitku masih kokoh. Ketenangan akan selalu hadir selagi aku masih bisa menatapi langit yang penuh keajaiban itu. Pergi Aku masih bisa tersenyum disaat Matahari datang menakut-nakuti bulan. Dan bulanpun pergi malu-malu sambil mencuri pandang ke arah matahari yang perkasa.
Langit penuh dengan segala yang kau inginkan. Sayangnya aku tak percaya kalau orang mati itu akan menjadi bintang-bintang di langit. Bila aku percaya dengan itu, pastilah sudah kubenturkan saja tubuhku kepada kematian, dan tewas! Lalu aku menjelma menjadi bintang yang sangat hitam karena mati tak wajar. Tak masalah. Karena langit lebih lembut daripada bumi ini.
Namun itu semua omong kosong! Aku tak pernah percaya. Aku percaya bahwa aku harus mempertanggung jawabkan hidupku. Aku harus menjaganya tetap berjalan dan aku terus membiarkannya seharmonis mungkin. Inilah sebuah pilihan hidup. Inilah bentuk dari menjaga penitipan dan anugrah.
Namun disaat ini, anugerah itu mungkin sangat tersembunyi. Tersembunyi karena dihalang-halangi oleh pak guru Apit dan orang tuaku sendiri yang sok sibuk. Aku yakin aku bisa mendapatkannya pada suatu hari nanti. Aku mampu mendapatkannya tampa ada orang-orang itu.
Biarlah aku dibuang!
Aku juga sudah tak peduli. Apa akhir dari perjalannanku sudahlah sangat tak penting. Apa akhir dari hidupku sudah sangat tidak kuhiraukan lagi. Hidup biar berjalan seperti bintang-bintang disana. Tak ada aturan dan bebas. Berbentur dan beredar sesukanya.
Pagi telah datang. Ketika aku membuka mataku, seorang lelaki jangkung berdiri didepan hidungku. Dia Sabri. Temanku yang ikut juga dalam kerusuhan di kantin itu.
“Sudah keluar kau, Bro?”
“Hah?! Kau rupanya? Kapan kau keluar dari penjara?”
“Kemarin! Pak Guru Apit gegar otak, bro.”
Wah! Duniaku terasa berbunga. Semangatku timbul lagi. Ah, bukan timbul, tapi bertambah. Bajingan itu akhirnya mendapatkan ganjarannya.
“Dari mana kau tahu?”
“Aku yang memukul kepalanya dengan balok ketika kerusahan itu. Aku melihatmu diciduk oleh polisi. Dan tak lama kemudian aku juga diangkut bersama beberapa teman kita yang lain.”
Aku tersenyum
“Aku dengar dari bapakku dia gegar otak dan mesti meninggalkan jabatannya sebagai kepala sekolah. Posisinya digantikan oleh pak Mustafa.”
Aku bersyukur. Dan berharap sekolahku semakin maju ditangan pak Mustafa. Itu sajalah yang kuinginkan. Tak muluk-muluk. Aku hanya ingin Pak guru Apit itu hengkang dari sekolah itu. Dan itu berhasil. Dan tak penting apa yang akan aku dapatkan dengan ini semua.
Aku masih punya langit.
Tak punya apa-apa disini bukan hal yang membuatku sedih. Masa bodoh dengan kemelaratan. Persetan dengan kesengsaraan. Selagi aku masih dapat memiliki langit.
Langit adalah miliku. Aku adalah milik langit. Aku masih bisa menghirup udara. Dan bila nanti aku bersayap, aku akan terbang menemui bulan. Aku ingin bercerita kepadanya tentang diriku yang tak seperti dia.


Bireuen, Aceh, Kamis, 14 Mei 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar