ANAK
LANGIT
Fe Mahdi Selian
Bila langit masih menerima bintang, aku ingin menjadi bintang yang
lain. Yang tak perlu dilihat orang. Asal aku bisa berada di ladang meteor itu
dan berbenturan. Menerjunkan diriku kedalam perjudian hidup yang belum akan habis. Sebelum suara menggelegar yang besar menghancurkan segala sesuatunya.
Menjadikan semuanya berbenturan satu dengan lainnya dan mencapai titik akhir yang dia titik awal yang lain
bagi manusia fana sepertiku.
Menuju pintu yang lain. Yang dijanjikan sebuah kekekalan. Penuh
dengan keindahan yang tak membosankan. Seperti wajah pak guru Apit yang tak
berbentuk itu. Rasanya aku ingin meludahinya saja. Atau membuang kotoranku yang
masih panas tepat diwajahnya yang kaku itu.
Busuk, kau!
Bulan yang damai itu selalu memberiku inspirasi agar aku damai
sepertinya. Tetap pada pendiriannya dan tetap menyinari siapa saja. Dia tak mau
berebut tempat dengan Matahari yang panas. Kulihat langit sangat penuh
kedamaian dan penuh pengertian.
Bilalah boleh, aku ingin terbang ke langit, bertamu kepada bulan
lalu bertanya tentang keindahannya yang menakjubkan disaat bulan berumur lima
belas hari. Lalu melambaikan tangan kepada matahari sambil tersenyum. Aku ingin
mengepakkan sayapku terbang mengunjungi setiap bintang-bintang. Menaburkan
cinta dan kasih sayang.
Cinta dan kasih sayang sudah tak kutemukan lagi di bumi yang
gersang panas ini. Semua saling menyalahkan. Semua merasa benar.
Semilir angin sudah tak kutemukan lagi sejak aku mengenal pak guru
Apit yang tolol itu. Dulu aku pernah merasakan belaian angin sore yang
melankolik disaat pak guru Mustafa mengajar dikelasku. Tapi dia didepak karena
dituduh korupsi. Padahal menurutku dia tidak pernah korupsi. Adakah orang yang
dituduh mengorupsi uang Biaya Operasional Sekolah datang kesekolah dengan speda
Ontel busuk warisan entah berantah? Bayangkan saja!
Lalu diapun dipecat dan digantikan Pak guru Apit sialan itu!
Setiap pagi kami harus menjalani serangkaian penyiksaan yang tidak
manusiawi. WC busuk selalu menjadi hukuman favoritnya setelah push up atau
jalan jongkok. Brengsek sekali!
Kami pernah berdemo didepan kantor sekolah meminta pak guru Apit
diganti saja. Tapi kami malah dimaki dan diancam oleh semua guru-guru. Tak ada
yang membela kami seperti pak guru Mustafa.
“apa-apaan kalian ini?” kata seorang guru yang juga tak punya peri
kemanusiaan.
“Kalian pikir ini terminal, ha?” timpal guru yang lain.
“Kalian itu dididik untuk menjadi orang yang manut, nurut, patuh!
Ga seperti ini! Kalian seperti kebo. Ga bermoral! Berandal! Ga punya
sopan santun.”
Puih!! Busuk sekali mulutnya berbicara sopan santun. Apa dia pikir
dia sudah sangat sopan dengan makian-makiannya itu? Apa dia pikir dia sudah
cukup berpendidikan dengan menanggapi tuntutan kami dengan sumpah serapah yang
bau itu? Tidak! Tidak sama sekali.
Siang itu semua murid mogok belajar didepan kelas. Tak ada yang mau
masuk dan belajar. Tapi, guru-gurunya malah kumpul-kumpul di kantin sambil
cekikikan.
“Sekali-sekali libur kan ga apa-apa.” Kata seorang lelaki.
Aku tebak itu pasti suara pak guru Apit bajingan itu.
“Ya, ya, sering-sering juga tak apa.” Timpal seorang guru yang
diikuti gelak tawa semua guru-guru. Lelaki dan perempuan. ah, tak ada bedanya
mereka.
“Ini, anak-anak edan ini, ternyata bermanfaat juga.” Kata seorang
guru yang entah suara siapa. Suaranya agak berat seperti dibuat-buat. Dan
kembali tawa itu menggelegar.
Kamipun pindah kedepan kantin dan meneriakan yel-yel anti pak Guru
Apit. Sebagian teman ada yang sudah sangat jengkel karena tak ada respon
positif dari dewan guru. Termasuk aku.
Dan tanpa kusadari tanganku sudah menggenggam sebuah batu. Dalam hitungan detik
saja batu itu melayang menuju meja makan dewan guru.
Prang!!! Gelas-gelas diatas meja itu pecah berantakan. Seperti
sebuah komanda, batu-batu yang lain mulai berterbangan kearah kerumunan
guru-guru busuk itu. Ibu-ibu guru berteriak berlarian menjerit-jerit, kulihat
pak Guru Apit menutupi kepalanya dengan sebuah piring kaca yang kemudian pecah,
Prang!! Terkena lemparan batu entah siapa.
Mereka kocar-kacir. Beberapa
guru perempuan tumbang menabrak kursi pelastik dan tersungkur. Tapi batu-batu
itu terus berterbangan memecahkan setiap kaca yang dihampirinya. Pak guru Hasan
berusaha melarikan diri kedalam sebuah tong sampah yang lumayan besar. Tapi tak
sempat. Sebuah batu memecahkan kepalanya. Darahnya muncrat dan diapun
tersungkur.
Itu sudah sangat tidak terkendali dan kami merengsek masuk memukuli
setiap guru yang kami temui. Sumpah serapah kami lontarkan bak semburan pipa
air yang bocor terkena peluru.
Tiba-tiba aku berteriak, “Berhenti!!!” “Cukup! Cukup!”
Saat itulah polisi datang mencidukku. Aku diseret seperti seekor
babi mati yang tak berharga. “Brandal! Berandal!” beberapa temanku yang lain
juga diseret tanpa ampun. Kami dimasukkan kedalam sebuah truk reo yang bau.
“Kalian tidak berpendidikan!” bentak seorang polisi yang bernama
Agus Wamono.
“Kami hanya ingin dimanusiawikan, pak polisi,” kata seorang temanku
yang mukanya berdarah-darah entah kenapa.
“Tapi kalian tidak manusiawi!” bentaknya kepada temanku itu.
“Guru-guru mata duitan itulah yang tidak manusiawi!” timpalku.
“Diam kau!” bentaknya sambil mendaratkan sepatu PDL tepat
diwajahku. Duniaku gelap dan tak tahu lagi apa yang terjadi.
Ketika terbangun, sayup-sayup aku mendengar suara orang menyebut
namaku dan menjadi awal petaka bagiku. Itulah sebabnya aku ingin menjadi
bintang saja. Biar aku bisa damai dengan langit yang penuh keajaiban. Biar aku
bisa melayang hampa tanpa beban di ruang angkasa dan tak dilihat. Oleh
siapapun. Bahkan orang tuaku sendiri.
Bila aku bintang disana, aku tak perlu takut tidak dianggap anak
oleh siapapun. Aku tak perlu takut dianggap berandal dan tak bermoral oleh
siapapun. Aku tak perlu merasa risau dengan penilaian miring orang tuaku yang
kemudian mencampakkanku.
Ah, masa bodoh!
Apakah aku anak jalanan? Bukan! Aku adalah anak langit yang setiap
malam memandangi langit. Ketika aku keluar dari penjara, beberapa temanku juga
sudah keluar dari penjara. Beberapa dari mereka bernasib sama sepertiku. Tak
dianggap lagi. Beberapa yang lain bernasib mujur memiliki orang tua yang
berhati langit. Luas dan lapang yang bisa melihat dari segala sisi. Tidak
gegabah! Emosional! Dan amburadul!
“Dua guru kita cacat, kawan!” kata temanku kepadaku. Aku terkekeh
saja.
“Pak hasan gegar otak!”
“O, ya? Bagaimana dengan si Apit bajingan itu?”
“Entah!”
Jawaban itu sangat tidak memuaskanku. Terus terang aku sangat
berharap dia mati saja. Tapi, sudahlah. Sekarang yang paling penting kupikirkan
adalah, dimana aku akan tinggal.
Malam yang larut membawaku jalan sangat jauh. Udara yang dingin
membuatku sanggup berjalan sejauh-jauhnya yang aku mau. Melewati orang-orang
yang meringkuk kedinginan diatas trotoar jalanan. Lalu sesekali aku terduduk di
atas sebuah bangku taman yang tak terurus bersama orang-orang lain yang menatap
hampa entah kemana. Diseberangku ada
seorang Ibu yang pakaiannya tak karuan, rambut panjangnya kusut minta ampun,
sebuah tubuh mungil meringkuk membuat setengah lingkaran diatas pahanya. Nyaris
tak bergerak.
Bumiku memang sangat gersang. Bumiku entah bagaimana aku memikirkan
keindahanya lagi. Tak kutemukan.
Aku melanjutkan jalanku sambil mengeluarkan gumpalan nafas yang
berat. Aku berusdaha menata pikiranku dan harapanku. Aku tak akan memikirkan
rumah dan berharap kembali lagi. Aku bisa hidup dimanapun. Aku bisa eksis
selagi langitku masih kokoh. Ketenangan akan selalu hadir selagi aku masih bisa
menatapi langit yang penuh keajaiban itu. Pergi Aku masih bisa tersenyum disaat
Matahari datang menakut-nakuti bulan. Dan bulanpun pergi malu-malu sambil
mencuri pandang ke arah matahari yang perkasa.
Langit penuh dengan segala yang kau inginkan. Sayangnya aku tak
percaya kalau orang mati itu akan menjadi bintang-bintang di langit. Bila aku
percaya dengan itu, pastilah sudah kubenturkan saja tubuhku kepada kematian,
dan tewas! Lalu aku menjelma menjadi bintang yang sangat hitam karena mati tak
wajar. Tak masalah. Karena langit lebih lembut daripada bumi ini.
Namun itu semua omong kosong! Aku tak pernah percaya. Aku percaya
bahwa aku harus mempertanggung jawabkan hidupku. Aku harus menjaganya tetap
berjalan dan aku terus membiarkannya seharmonis mungkin. Inilah sebuah pilihan
hidup. Inilah bentuk dari menjaga penitipan dan anugrah.
Namun disaat ini, anugerah itu mungkin sangat tersembunyi. Tersembunyi
karena dihalang-halangi oleh pak guru Apit dan orang tuaku sendiri yang sok
sibuk. Aku yakin aku bisa mendapatkannya pada suatu hari nanti. Aku mampu
mendapatkannya tampa ada orang-orang itu.
Biarlah aku dibuang!
Aku juga sudah tak peduli. Apa akhir dari perjalannanku sudahlah
sangat tak penting. Apa akhir dari hidupku sudah sangat tidak kuhiraukan lagi.
Hidup biar berjalan seperti bintang-bintang disana. Tak ada aturan dan bebas.
Berbentur dan beredar sesukanya.
Pagi telah datang. Ketika aku membuka mataku, seorang lelaki
jangkung berdiri didepan hidungku. Dia Sabri. Temanku yang ikut juga dalam
kerusuhan di kantin itu.
“Sudah keluar kau, Bro?”
“Hah?! Kau rupanya? Kapan kau keluar dari penjara?”
“Kemarin! Pak Guru Apit gegar otak, bro.”
Wah! Duniaku terasa berbunga. Semangatku timbul lagi. Ah, bukan
timbul, tapi bertambah. Bajingan itu akhirnya mendapatkan ganjarannya.
“Dari mana kau tahu?”
“Aku yang memukul kepalanya dengan balok ketika kerusahan itu. Aku
melihatmu diciduk oleh polisi. Dan tak lama kemudian aku juga diangkut bersama
beberapa teman kita yang lain.”
Aku tersenyum
“Aku dengar dari bapakku dia gegar otak dan mesti meninggalkan
jabatannya sebagai kepala sekolah. Posisinya digantikan oleh pak Mustafa.”
Aku bersyukur. Dan berharap sekolahku semakin maju ditangan pak
Mustafa. Itu sajalah yang kuinginkan. Tak muluk-muluk. Aku hanya ingin Pak guru
Apit itu hengkang dari sekolah itu. Dan itu berhasil. Dan tak penting apa yang
akan aku dapatkan dengan ini semua.
Aku masih punya langit.
Tak punya apa-apa disini bukan hal yang membuatku sedih. Masa bodoh
dengan kemelaratan. Persetan dengan kesengsaraan. Selagi aku masih dapat
memiliki langit.
Langit adalah miliku. Aku adalah milik langit. Aku masih bisa
menghirup udara. Dan bila nanti aku bersayap, aku akan terbang menemui bulan.
Aku ingin bercerita kepadanya tentang diriku yang tak seperti dia.
Bireuen, Aceh, Kamis, 14 Mei 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar