Senin, 23 Oktober 2017

Sahabatku Malik

SAHABATKU MALIK
Oleh: Feri Mahdi Selian
Kebun Singkong.
Kehidupan ini hanya perihal pergi dan datang.  Seperti  sahabatku Malik. Dia pergi beberapa hari yang lalu; meninggalkanku dan dunia ini. Meninggalkan segala cita-cita kami. Entah mengapa dunia hanya diberi pilihan dua mata kehidupan itu. Datang dan pergi. Entahlah. Mungkin sudah seperti inilah kehidupan ini. Dari sang empunya kehidupan yang mengatur segalanya.
Sahabatku Malik, sebelum kepergiannya masih bermain bersamaku. Bermain perang-perangan ditengah kebun singkong Kek Jadi yang garang itu, sambil menembakiku dengan peluru buah jambu air dia berujar,
“Kau tahu tidak, Sadri? Bagaimana rasanya terkena peluru?”
“Pastinya sakit, Lik.”
“Kau benar, Sad. Aku tak ingin mati dalam perang.”
“Mengapa?” tanyaku sambil menembakinya. Tapi dia keburu lari sambil tertawa.
“Bilang-bilanglah kau kalau menembak, Sad!”
“Ah, kalau kubilang kapan aku bisa mengenaimu!”
Seharian kami berkejar-kejaran ditengah-tengah kebun itu. menembak, menerjang, membentak dan mengeluarkan kata-kata yang kurang layak. Seperti yang sering dikatakan serdadu-serdadu Hollywood ketika berperang dalam film-film.
“Ai, Kena kau Sad!! Kena! Mati. Mati kau!”
“Ah, mana ada bekasnya? Mesti berbekaslah. Coba kau lihat badanku. Masih bersih. Tak ada bekas jambunya.”  
“Eh, kau lihat sendiri saja. Kau kena, Sad. Mati…” aku tak mau mendengarnya. Malah berlari sambil menembakinya. Kami tertawa lepas. Iitulah tawanya yang paling lepas yang kudengar. Dia menghindari lemparan jambu yang menghampirinya. Tapi satu jambu mengenai jidadnya. Lalu beruntun mengenai badannya.
Aku meloncat girang.
“Nah, kena kau, Malik! Sekarang jidadmu pula. Kau mesti mati.”
“Ga akan, Sad. Kaupun tak mati tadi.”
Aku terpingkal-pingkal menahan tawa. Malikpun kulihat merah mukanya karena geli.
*****
Dibawah pohon mangga yang Rindang.
Matahri mulai terik. Dan badan hitamku sudah berlumuran keringat. Baju malik yang tipis sudah menempel-nempel tak rata dibadannya. Dahaga mulai menyerang kami. Malik mengeluarkan sebotol air mineral yang dia bawa. Dia menyodorkannya padaku.
“Kau pasti haus, Sad.”
“Kau juga. Minumlah lebih dulu. Aku bisa setelahmu.”
“Kau saja lebih dulu. Aku belum terlalu haus. Ayo, minumlah.”
“Ah, tak apalah. Kau saja. Aku belum terlalu haus.”
“Ini airku, Sad. Aku berhak menyuruhmu duluan. Ambillah. Ini perintah komandan.” Katanya. Aku menaruhkan tanganku dikening. Dan menghentakkan kaki ke tanah. Kuteguk air itu beberapa teguk. Dan kusodorkan padanya yang tersenyum puas melihatku minum.
Kami duduk disana. Melihat kearah gunung didepan kami. Aku tak tahu nama gunung itu. Itu tak terlalu penting. Namun aku sering mendengar cerita nenekku tentang gunung tanpa nama itu. Dulunya, gunung itu tempat persembunyian para penyamun dan perompak yang dikejar oleh tentara kerajaan. Mereka lari kesemak belukar kampung ini lalu masuk kehutan belantara itu. Hutan itu masih perawan. Belum banyak dimasuki oleh manusia. Disana masih banyak hewan buas yang ganas. Burung-burung aneh yang jarang dilihat manusia, suara-suara aneh dari hewan langka yang kemungkinan ada yang belum dilihat dunia, begitu kata nenekku. Tapi, itu taklah terlalu penting bagiku dan Malik. Karena itu hanya membangkitkan kei ngin tahuan kami.
Kami baru saja menamatkan Madrasah Tsanawiyah kami dengan nilai yang bersaing. Aku mendapat peringkat pertama, sementara Malik peringkat keduanya. Dan itu tak pernah berubah sejak pertama kali kami masuk sekolah itu. Bahkan sejak Madrasah Ibtidaiyyah. Malik selalu belajar mati-matian untuk mengejar nilaiku. Tapi, dia tak pernah berhasil. Namun dia tak pernah mengakui keunggulanku. Heh! Entah kenapa.
“Mengapa tak kau tukarkan saja peringkatmu dengan peringkatku, Sad?” kata Malik ketika kami mulai duduk dibawah pohon mangga itu. Sambil menyimpulkan senyum khasnya yang tak ada tandingan dikampung ini. Yang membuatnya banyak disukai orang, juga gadis-gadis sebaya kami.
“Bukannya kau bilang tak penting angka-angka itu, Malik?” Jawabku dengan mengingatkannya akan perkataannya yang sering dia lontarkan ketika pembagian Raport dilaksanakan dikelas.
Dia menarik nafas dan kembali tersenyum.
“Ada masanya dia terasa penting bagi semangat, Sad.”
“Oh, Bagiku bukan itu yang membuatku bersemangat.” Sindirku lagi sambil memalingkan wajahku. Sok bijak dan sedikit menampakan sikap sombong. Malik memukulkan kepalan tangannya ke lenganku sambil tersenyum.
“Jangan kau sindir aku.”
“Aku tak menyindirmu.”
“Baiklah, sekarang, ceritakan kepadaku bagaimana kau bisa mendapatkan angka-angka yang itu itu saja sejak aku mengenalmu masih ingusan dulu?”
“Ah, kau juga ingusan, Lik.”
“Tapi ingusmu lebih banyak!” Kami melepaskan tawa lagi. Malik memegang perutnya yang berguncang. Sementara aku memukul-mukulkan kakiku ketanah.
“Aku tak memikirkan angka-angka itu, Lik. Aku tak begitu mengharapkannya. Aku hanya membiarkannya menjadi akibat. Tak sulit, bukan?”
“Jadi, kau tak membutuhkan imbalan?”
“Bukan tak membutuhkan. Tapi tak mengharapkan.”
Malik mengangguk-anggukkan kepalanya seperti ayam yang mematuki umpan-umpan yang ditebarkan ditanah. Sementara aku menatapinya sebagai salah seorang temanku yang paling setia yang pernah kumiliki. Kesetiakawanan yang luar biasa. Yang tak pernah pudar. Yang tak rusak karena iri. Dan tak disusupi oleh kedengkian.
“Sad, lalu apakah imbalan dari sebuah kehidupan?”
“Kehidupan itu milik kita, kita tak mendapatkan imbalan darinya. Karena kita memintanya dari yang memiliki kehidupan. Kita telah dihadiahi nafas ini. Apakah ada imbalan dari sebuah hadiah?”
“Begitukah?”
“Menurutku. Entah menurutmu.”
“Aku berharap ada imbalan dari itu semua, Sad. Aku ingin ada imbalan dari sebuah kehidupan yang sebenarnya menarik ini. Tapi, entah mengapa kehidupan ini tak semenarik dahulu. Ketika kita masih ingusan dan suka bertengkar. Namun cita-cita itu tetap masih ada dan tetap bersemayam. Ya, berupa imbalan mungkin.”
“Aku tak mengerti.”
“Tak penting!”
Malik menggores-goreskan kayu ditangannya membentuk lukisan sebuah lingkaran yang tak jelas di tanah.  Sesekali dipungutnya bebatuan kecil lalu dilemparnya kearah yang kurasa tidak terlalu penting ketika itu.
“Kau Tahu? Kalaulah Tuhan diatas sana memberikan sebuah imbalan, maka aku meminta kepadanya sebuah kekayaan untuk menjadi imbalan itu.”
“Kekayaan?”
“Ya, kekayaan yang tak pernah menghampiri lehidupanku dan orang tuaku selama bertahun-tahun sudah aku hidup. Kami tetap saja miskin. Fakir dan papa. Kami selalu diinjak dan disepelekan. Kami bahkan tak berhak untuk menempati tanah kami sendiri. Mungkin suatu saat nanti, akupun tak berhak menyandang namaku sendiri. Sangat angkuh sekali kekayaan itu.”
“Tapi kekayaan itu di hati, Lik.” Kataku mengulangi ucapan pak Bakri disekolah sebelum kami tamat dahulu.
“Sampai kapan dia berada dan berhenti dihati terus, Sad? Kapankah dia menjelma menjadi nyata di alam kita ini. Dapat disentuh dan dirasakan? Juga dinikmati?”
“Itu bukanlah segalanya. Itu hanya fatamorgana yang semu. Yang hanya memberikan kekosongan yang sulit untuk diisi kembali.” Lagi-lagi perkataan pak Bakri yang kuulangi.
“Sekosong apapun akan tetap bisa diiisi dan disempurnakan, Sadri.”
“Tak akan pernah sempurna. Kebahagiaan yang paling sempurna adalah hatimu sendiri, Lik.”
“Tapi tak salahlah bila aku mempunyai harapan dan cita-cita, Sad?”
“Tidak.”
“Aku berharap akan segera tercapai.”
“Semoga. Aku juga akan senang. Kurasa, kekayaan yang berasal dari kefakiran akan menghasilkan rasa peduli yang sangat luar biasa.”
“Itulah yang kuinginkan.”
*****

Jalan setapak menuju kampung
“ingat-ingatlah selalu, Sadri... aku akan menjadi kaya dan akan membasmi keangkuhan orang-orang kaya itu. Tak akan ada lagi orang-orang tertindas dan lemah yang dipermainkan seperti mainan.”
“Sangat mulia!”
“Tak semulia cita-cita Baginda Nabi yang ingin seluruh ummat didunia berada disurga dengan berbagai kebahagiaannya.”
“Taklah bisa untuk ditandingi.”
“Aku tahu.”
Pagi yang dingin dan basah
Corong Mushalla bersuara riuh memecah kesunyian pagi ba’da subuh yang damai. Sebagian orang belum terbangun, tapi sudah banyak yang terbangun sejak fajar tadi untuk menunaikan ibadahnya.
Aku sendiri sedang mengurus ayam dikandangnya, dan memilihi telur itik yang akan aku jual pagi ini ke pasar.
Bilal mushalla itu batuk sebelum berbicara di corong mesjid. Berita itu telah dikabarkan ke seentaro kampung. Aku terduduk lesu. Telur-telur yang baru saja kupungut kuletakkan kembali ke tanah.
Kehidupan hanyalah dua mata yang saling berlawanan. Dan kita hanya bisa memilih salah satunya. Bila aku boleh ikut memilihkannya sebuah jalan, maka akan kupilihkan padanya sebuah persahabat erat dikedua sisi kehidupan itu. Dan bergandengan melangkah menapaki setiap sisinya. Tapi aku tak berhak untuk itu.
“Kekayaan yang abadi itu bukanlah disini, sahabat. Dan kata-kataku tak berlaku disana.”
Bener Meriah, Aceh 7-7-2010


Cintamu yang berbicara



CINTAMU YANG BERBICARA
Fe Mahdi Selian
Aku tak pernah berniat meninggalkanmu.
Sumpah, setiap keputusan yang kubuat tak pernah kusadari. Selalu gegabah. Sampai hingga ketika pagi itu engkau bersedia meninggalkanku, aku bingung entah bagaimana. Aku kehilangan segalanya yang seharusnya bisa kugenggam, tapi tak kugenggam. Kau selalu menyodorkan dirimu untuk kugenggam, tapi aku seakan takut menggenggammu. Dan kutolak untuk menggenggammu.
Berkali-kali kau datang setelah berkali-kali kau kutelantarkan. Hatimu yang mulia telah kuning keriput karena sangat sering menangis. Kesetiaanmu yang luar biasa telah mengalahkan legenda-legenda cinta Laila dan Qais atau legenda cinta Romeo dan Juliet. Tapi kesetiaan itu kuabaikan seperti mengabaikan ludah yang sudah kubuang.
Kesetiaanmu sangat sering melelehkan air matanya di pangkuanku dan merebahkan impiannya di hatiku, tapi kuhempaskan hingga kau tercampak membentur tiang penyangga rumahku. Kau terdiam meringkuk sejenak dalam tangismu yang begitu hebat. Kau tak berkata-kata karena takut membuatku semakin marah dan tak bersedia lagi menerimamu.
Lalu cintamupun datang sambil membawa beribu-ribu bukti yang tak terbantahkan. Tapi hatiku yang tak peduli dan penuh kesombongan ini mencelanya. Menyumpah serapahinya. Dan meneriakinya dengan sangat kejamku.
“Bohong!”
“Bohong! Cintamu tak pernah untukku. Cintamu palsu penuh tipuan. Cintamu penuh dengan perselingkuhan dan kucing-kucingan. Kau tak pernah mengharapkanku. Kau tak pernah menyimpan namaku dihatimu. Kau hanya ingin sebuah nama yang kau sematkan di belakang nama anakmu nanti. Kau busuk. Bohong. Dusta.”
Cintamu terus meyakinkanku tanpa lelah. Cintamu tetap berdiri didepan hidungku yang kembang kempis merona merah dengan mata yang nanar seperti menatap musuh bebuyutan yang sudah sangat kudendami. Tapi cintamu membalas tatapanku dengan pandangan sayu penuh harapan. lalu cintamu meraih tanganku dan meletakkannya tepat didadanya. Dapat kurasakan detakan jantungmu yang menggebu. Dapat kurasakan kesetiaan yang luar biasa disana. Kuhentakkan tangannku segera setelah kutahu betapa besar cinta itu. Kau terhuyung karenanya.
“Lihatlah mataku, sayang.”
“Lihatlah kedalam sini. Lihatlah hatiku. Lihatlah betapa dia tak pernah diisi oleh siapapun kecuali namamu. Lihatlah ukiran-ukirannya. Takkah kau bisa mengenali wajahmu lagi? Lihatlah garafiti-grafiti indah itu, bukankah itu ukiran nama kita? Lihatlah, kekasihku.”
“Lihatlah aku, sayang. Kedalam sini. Rabalah lebih dalam. Selamilah lebih dalam lagi, periksalah hatiku ini. Perhatikan segalanya. Ini hanya milikmu, kekasihku. Ini untukmu.”
Aku menitikkan air mataku sesaat. Sesaat kemudian keangkuhan muncul lagi. Sesaat kemudian semua tak dapat kuingat lagi. Sesaat kemudian bibirku hanya miliki satu kata yang mengiris-iris.
“Bohong!”
“Bohong!”
“Bohong!”
Cintamu memegang dadanya lalu pergi keluar dari teras rumahku, berlari kearah sungai yang sering kita kunjungi. Aku tahu apa pastinya yang kau kerjakan disana. Tempat dimana kita menghabiskan hari-hari kita sambil bercerita di tepi sungai itu. Tempat dimana kau sering merebahkan cintamu diatas pangkuanku sambil mengulang kata-kata cinta beribu-ribu kali. Tak bosan. Tak jemu bahkan aku juga. Cinta kita saat itu sangatlah luar biasa. Dan kau akan mengenang masa lalumu disana. Diatas sebuah batu. Dibawah sebuah pohon. Ditepi sungai yang airnya jernih beriak lembut.
Kesetiaanmu menundukkan kepalanya. Menatap kearahku yang entah bermuka apa. Lagi-lagi meneteskan air mata yang entah keberapa kalinya. Lagi-lagi tersedu dan tersedan. Sebenarnya ada rasa iba di hatiku. Tapi saat ini sangat sedikit. Sangat tidak dapat kutimbulkan. Seperti perasaan cinta yang kumiliki, kurasa dia besar, namun dia berada dikedalaman entah berantah yang tak dapat kudeteksi saat ini. Sangat didominasi kebencian yang entah muncul dari mana.
“Takkah cukup bukti-bukti yang dimiliki cinta, kekasih?” tanya Kesetiaanmu dengan muka basah berbasuh air mata.
Aku diam saja.
“Apa sudah tertutup pintu hatimu untuk melihat kebenaran cinta murni yang ada didasar dada? Lihatlah betapa suci cahaya cinta itu. Betapa polosnya dia,  tak mengenal kedengkian dan pengkhianatan. Betapa dia hanya mengenal sebuah pengabdian kepada cinta yang mungkin akan memberinya segala hal lebih dari segala-galanya.”
Ataukah harus binasa karena cinta? Itu tak masalah baginya. Selagi dia bisa merasakan seteguk saja dari cinta itu. Apakah ini yang disebut dengan cinta buta? Apakah ini yang disebut dengan kegilaan cinta yang muncul tanpa bisa diterima oleh akal sehat? Yang ribuan kepala professor akan dibuatnya menggeleng bila dihadapkan pada penyelesaian tragedi cinta? Berlebihan! Tapi inilah fakta yang mesti disadari.
“Kau sombong, kekasih! Kau tak bisa sedikitpun mendengarkan hati kecilmu yang beku itu. Entah terbuat dari apa hatimu itu, kekasih. Kau sebenarnya bukan manusia. Kau hanya seperti binatang yang tak berperasaan. Bahkan kau lebih buruk.”
“Terserah apa katamu!”
Kesetianmu menamparku sangat keras. Membuat hatiku terhuyung dan aku menatap kearah pintu lalu kejalan setapak menuju sungai.
“Bila kau manusia, kejarlah dia!”
“Tak akan,” ucapku.
Kesetiaanmu menggeleng-gelengkan kepalanya dan memukul-mukul jidadnya beberapa kali. Aku tetap tak bergeming. Karena aku tahu kesetiaanmu akan tetap berada bersamaku. Ah, itulah bentuk kesombongan itu. Sudah sangat tampak dan mulai kusadari. 
Bila aku boleh bercerita, itulah kesetiaan yang paling indah sebenarnya.
Kesetiaanmu berbisik kepadaku. Aku sebenarnya ingin mengelak. Tapi, aku tak lakukan. Aku diam dan mendengar apa yang dia katakan. Kesetiaanmu berbisik serindai kepadaku. Aku geli terkena hembusan nafas kesetiaanmu yang membuatku seakan semakin marah. Tapi sekali lagi, biarlah kudengarkan saja.
“Kau tahu apa yang dia katakan pada Romdan pagi tadi, kekasih?”
“Apa?”
“Kau mesti tahu ini. Dan kau tak akan percaya kalau Romdan itu adalah orang yang kedelapan. Anak juragan  pula. Kau dengarlah ceritaku ini.”
“Tak perlu kau bercerita panjang lebar. Katakan saja yang terpenting. Apa yang dia katakan?”
“Baiklah, pagi tadi Romdan datang beserta empat orang pengawal bapaknya, juga bapaknya. Mereka membawa hadiah begitu banyak. Dan kau tahu apa yang mereka inginkan? Mereka ingin mempersunting cinta. Mereka ingin mengambil Cinta yang selama ini hanya mengharapkan tubuhnya bersatu dengan tubuhmu untuk menjadi istrinya. Dan kau pikir cinta tergiur, kekasih?”
Kesetiaanmu mencoba menerobos blokade kebencian dihatiku yang telah berlumut dan pagar kebusukannya telah berkarat.
Dan tak bisa.
Tak pernah bisa dan selalu saja seperti angin yang berhembus membawa bebauan tahi yang tak kusukai. Ah, kurasa bau itu lebih kusukai daripada bau Cinta yang kuanggap palsu itu.
“Besar juga dustamu, kesetiaan!” bentakku.
“Aku tak berdusta. Aku berkata benar.”
“Aku tak disana. Dan aku tak menyaksikan penolakan yang kau anggap luarbiasa itu.”
“Mestikah kau selalu disana dan menyaksikan?”
“Mesti!”
Kesetiaanmu mengurut dadanya untuk kesekian kalinya. Dan aku memalingkan wajahku dari kesetiaanmu yang selalu berusaha tegar. Setegar mungkin yang dia bisa.
“Entah bagaimana lagi cara meyakinkanmu, kekasih.”
“Kau tak perlu membuatku yakin. Aku tak ingin untuk yakin.”
Kesetiaanmu memalingkan wajahnya. Menatap kearah gunung yang tak pernah beranjak itu. Ke arah gunung yang katanya ikut berjalan dan berputar bersama perputaran bumi yang sama sekali tak kulihat putarannya. Dan aku kembali pada keangkuhan dan gemelut perasaan yang kutanggung.
Pagi, siang dan malam berlalu berkali-kali. Pulang pergi berkali-kali. Dan aku tetap pada kebencian, diikuti oleh kesetiaanmu yang tak pernah bosan.
Ketika hari-hari itu berlalu, tak secuilpun cinta itu muncul ke permukaan dan menyapa kenyataan. Dan akupun tak ambil pusing dengan semua kebisuan itu. Tak ada lagi dirimu, cintamu dan kesetiaanmu. Dan disaat itulah kau muncul kembali didepanku.
“Bolehkah aku mendapatkan sedikit saja dari yang kau miliki, kekasih?”
“Apa lagi yang harus kuberikan?”
“Sedikit dari yang sudah sering kuminta.”
“Ah…”
“Aku paham, itulah hal mustahil yang paling tak mungkin kuberikan.”
Ah, itulah kerjamu yang paling kubenci selama ini. Menangis! Entah apa yang membuatmu sangat suka menangis? Naluri kewanitaan? Tak sepenuhnya kupercaya. Tak sepenuhnya wanita itu lemah dan selalu menangis. Berapa banyak dari wanita yang sangat perkasa dan menjadi pahlawan?
Terserahlah! Menangis saja. Itu tak akan mengubah apapun.
Tak cinta, tak juga rasa kasih. Apa lagi rencana-rencana emas yang kemilau yang pernah kau torehkan pada khayalmu itu.
Semua sudah pudar pada setiap hembusan hari yang cepat. Dan tak ada lagi tempat untuk itu. Tak ada lagi harapan yang dapat kau proleh dari bekunya hatiku ini. Bila kau seorang yang bijak dan tahu cara menghadapi situasi, sebaiknya kau pergi saja. Tapi, pada kenyataannya kau tetap bertengger pada kakimu yang menekuk memegang tanganku.
“Sudah cukup sedu sedan dan pengemisan yang sia-sia itu.” Ucapku pada cintamu dan juga kesetiaanmu yang tak ingin kutatap. Pantasnya lagi, tak sanggup untuk kulihat.
“Mengapa kau berkata begitu?” hidungmu memerang dan kembang kempis.
“Aku sudah tak punya apa-apa lagi dihatiku untukmu.”
“Takkah sebutir bibit cinta yang nantinya akan kusirami dengan cinta dan kesetiaanku?”
“Tak juga bibitnya.”
Kau merangkul lututku. Lalu menciuminya sambil meminta hal-hal klise yang sering sekali kau ucapkan.
“Aku sudah tak punya lagi.”
“Sedikitpun?”
Aku diam saja.
Kau melepas rangkulanmu dan duduk meringkuk. Lalu menatap ke arah yang sangat kita kenal, sungai dengan riak airnya yang lembut. Kau menarik nafasmu dalam-dalam dan menghembuskannya jauh-jauh. Seperti membuang rasa cinta jauh-jauh dan dia kembali lagi.
“Begitukah keputusan itu?”
Aku mengangguk dan memalingkan wajahku.
“Baiklah!”

Takengon, Aceh 7-7-2010