SAHABATKU MALIK
Oleh: Feri Mahdi Selian
Kebun Singkong.
Kehidupan ini hanya perihal pergi dan datang.
Seperti sahabatku Malik. Dia
pergi beberapa hari yang lalu; meninggalkanku dan dunia ini. Meninggalkan segala cita-cita
kami. Entah mengapa dunia hanya diberi pilihan dua mata kehidupan itu. Datang
dan pergi. Entahlah. Mungkin sudah seperti inilah kehidupan ini. Dari sang
empunya kehidupan yang mengatur segalanya.
Sahabatku Malik, sebelum kepergiannya masih bermain
bersamaku. Bermain perang-perangan ditengah kebun singkong Kek Jadi yang garang
itu, sambil menembakiku dengan peluru buah jambu air dia berujar,
“Kau tahu tidak, Sadri? Bagaimana rasanya terkena peluru?”
“Pastinya sakit, Lik.”
“Kau benar, Sad. Aku tak ingin mati dalam perang.”
“Mengapa?” tanyaku sambil menembakinya. Tapi dia keburu
lari sambil tertawa.
“Bilang-bilanglah kau kalau menembak, Sad!”
“Ah, kalau kubilang kapan aku bisa mengenaimu!”
Seharian kami berkejar-kejaran ditengah-tengah kebun itu. menembak,
menerjang, membentak dan mengeluarkan kata-kata yang kurang layak. Seperti yang
sering dikatakan serdadu-serdadu Hollywood ketika berperang dalam film-film.
“Ai, Kena kau Sad!! Kena! Mati. Mati kau!”
“Ah, mana ada bekasnya? Mesti berbekaslah. Coba kau lihat
badanku. Masih bersih. Tak ada bekas jambunya.”
“Eh, kau lihat sendiri saja. Kau kena, Sad. Mati…” aku tak
mau mendengarnya. Malah berlari sambil menembakinya. Kami tertawa lepas. Iitulah
tawanya yang paling lepas yang kudengar. Dia menghindari lemparan jambu yang
menghampirinya. Tapi satu jambu mengenai jidadnya. Lalu beruntun mengenai
badannya.
Aku meloncat girang.
“Nah, kena kau, Malik! Sekarang jidadmu pula. Kau mesti
mati.”
“Ga akan, Sad. Kaupun tak mati tadi.”
Aku terpingkal-pingkal menahan tawa. Malikpun kulihat
merah mukanya karena geli.
*****
Dibawah pohon mangga yang
Rindang.
Matahri mulai terik. Dan badan hitamku sudah berlumuran
keringat. Baju malik yang tipis sudah menempel-nempel tak rata dibadannya.
Dahaga mulai menyerang kami. Malik mengeluarkan sebotol air mineral yang dia
bawa. Dia menyodorkannya padaku.
“Kau pasti haus, Sad.”
“Kau juga. Minumlah lebih dulu. Aku bisa setelahmu.”
“Kau saja lebih dulu. Aku belum terlalu haus. Ayo,
minumlah.”
“Ah, tak apalah. Kau saja. Aku belum terlalu haus.”
“Ini airku, Sad. Aku berhak menyuruhmu duluan. Ambillah.
Ini perintah komandan.” Katanya. Aku menaruhkan tanganku dikening. Dan
menghentakkan kaki ke tanah. Kuteguk air itu beberapa teguk. Dan kusodorkan
padanya yang tersenyum puas melihatku minum.
Kami duduk disana. Melihat kearah gunung didepan kami. Aku
tak tahu nama gunung itu. Itu tak terlalu penting. Namun aku sering mendengar
cerita nenekku tentang gunung tanpa nama itu. Dulunya, gunung itu tempat
persembunyian para penyamun dan perompak yang dikejar oleh tentara kerajaan. Mereka
lari kesemak belukar kampung ini lalu masuk kehutan belantara itu. Hutan itu masih
perawan. Belum banyak dimasuki oleh manusia. Disana masih banyak hewan buas
yang ganas. Burung-burung aneh yang jarang dilihat manusia, suara-suara aneh
dari hewan langka yang kemungkinan ada yang belum dilihat dunia, begitu kata
nenekku. Tapi, itu taklah terlalu penting bagiku dan Malik. Karena itu hanya
membangkitkan kei ngin tahuan kami.
Kami baru saja menamatkan Madrasah Tsanawiyah kami dengan
nilai yang bersaing. Aku mendapat peringkat pertama, sementara Malik peringkat
keduanya. Dan itu tak pernah berubah sejak pertama kali kami masuk sekolah itu.
Bahkan sejak Madrasah Ibtidaiyyah. Malik selalu belajar mati-matian untuk
mengejar nilaiku. Tapi, dia tak pernah berhasil. Namun dia tak pernah mengakui
keunggulanku. Heh! Entah kenapa.
“Mengapa tak kau tukarkan saja peringkatmu dengan
peringkatku, Sad?” kata Malik ketika kami mulai duduk dibawah pohon mangga itu.
Sambil menyimpulkan senyum khasnya yang tak ada tandingan dikampung ini. Yang
membuatnya banyak disukai orang, juga gadis-gadis sebaya kami.
“Bukannya kau bilang tak penting angka-angka itu, Malik?”
Jawabku dengan mengingatkannya akan perkataannya yang sering dia lontarkan
ketika pembagian Raport dilaksanakan dikelas.
Dia menarik nafas dan kembali tersenyum.
“Ada masanya dia terasa penting bagi semangat, Sad.”
“Oh, Bagiku bukan itu yang membuatku bersemangat.”
Sindirku lagi sambil memalingkan wajahku. Sok bijak dan sedikit menampakan
sikap sombong. Malik memukulkan kepalan tangannya ke lenganku sambil tersenyum.
“Jangan kau sindir aku.”
“Aku tak menyindirmu.”
“Baiklah, sekarang, ceritakan kepadaku bagaimana kau bisa
mendapatkan angka-angka yang itu itu saja sejak aku mengenalmu masih ingusan
dulu?”
“Ah, kau juga ingusan, Lik.”
“Tapi ingusmu lebih banyak!” Kami melepaskan tawa lagi.
Malik memegang perutnya yang berguncang. Sementara aku memukul-mukulkan kakiku
ketanah.
“Aku tak memikirkan angka-angka itu, Lik. Aku tak begitu
mengharapkannya. Aku hanya membiarkannya menjadi akibat. Tak sulit, bukan?”
“Jadi, kau tak membutuhkan imbalan?”
“Bukan tak membutuhkan. Tapi tak mengharapkan.”
Malik mengangguk-anggukkan kepalanya seperti ayam yang
mematuki umpan-umpan yang ditebarkan ditanah. Sementara aku menatapinya sebagai
salah seorang temanku yang paling setia yang pernah kumiliki. Kesetiakawanan
yang luar biasa. Yang tak pernah pudar. Yang tak rusak karena iri. Dan tak
disusupi oleh kedengkian.
“Sad, lalu apakah imbalan dari sebuah kehidupan?”
“Kehidupan itu milik kita, kita tak mendapatkan imbalan
darinya. Karena kita memintanya dari yang memiliki kehidupan. Kita telah
dihadiahi nafas ini. Apakah ada imbalan dari sebuah hadiah?”
“Begitukah?”
“Menurutku. Entah menurutmu.”
“Aku berharap ada imbalan dari itu semua, Sad. Aku ingin ada
imbalan dari sebuah kehidupan yang sebenarnya menarik ini. Tapi, entah mengapa
kehidupan ini tak semenarik dahulu. Ketika kita masih ingusan dan suka
bertengkar. Namun cita-cita itu tetap masih ada dan tetap bersemayam. Ya,
berupa imbalan mungkin.”
“Aku tak mengerti.”
“Tak penting!”
Malik menggores-goreskan kayu ditangannya membentuk
lukisan sebuah lingkaran yang tak jelas di tanah. Sesekali
dipungutnya bebatuan kecil lalu dilemparnya kearah yang kurasa tidak terlalu
penting ketika itu.
“Kau Tahu? Kalaulah Tuhan diatas sana memberikan sebuah imbalan, maka aku
meminta kepadanya sebuah kekayaan untuk menjadi imbalan itu.”
“Kekayaan?”
“Ya, kekayaan yang tak pernah menghampiri lehidupanku dan orang tuaku
selama bertahun-tahun sudah aku hidup. Kami tetap saja miskin. Fakir dan papa.
Kami selalu diinjak dan disepelekan. Kami bahkan tak berhak untuk menempati
tanah kami sendiri. Mungkin suatu saat nanti, akupun tak berhak menyandang
namaku sendiri. Sangat angkuh sekali kekayaan itu.”
“Tapi kekayaan itu di hati, Lik.” Kataku mengulangi ucapan pak Bakri
disekolah sebelum kami tamat dahulu.
“Sampai kapan dia berada dan berhenti dihati terus, Sad? Kapankah dia
menjelma menjadi nyata di alam kita ini. Dapat disentuh dan dirasakan? Juga
dinikmati?”
“Itu bukanlah segalanya. Itu hanya fatamorgana yang semu. Yang hanya
memberikan kekosongan yang sulit untuk diisi kembali.” Lagi-lagi perkataan pak
Bakri yang kuulangi.
“Sekosong apapun akan tetap bisa diiisi dan disempurnakan, Sadri.”
“Tak akan pernah sempurna.
Kebahagiaan yang paling sempurna adalah hatimu sendiri, Lik.”
“Tapi tak salahlah bila aku
mempunyai harapan dan cita-cita, Sad?”
“Tidak.”
“Aku berharap akan segera
tercapai.”
“Semoga. Aku juga akan
senang. Kurasa, kekayaan yang berasal dari kefakiran akan menghasilkan rasa
peduli yang sangat luar biasa.”
“Itulah yang kuinginkan.”
*****
Jalan setapak menuju kampung
“ingat-ingatlah selalu, Sadri... aku akan menjadi kaya dan akan membasmi
keangkuhan orang-orang kaya itu. Tak akan ada lagi orang-orang tertindas dan
lemah yang dipermainkan seperti mainan.”
“Sangat mulia!”
“Tak semulia cita-cita Baginda Nabi yang ingin seluruh ummat didunia
berada disurga dengan berbagai kebahagiaannya.”
“Taklah bisa untuk ditandingi.”
“Aku tahu.”
Pagi yang dingin dan basah
Corong Mushalla bersuara riuh memecah kesunyian pagi ba’da subuh yang
damai. Sebagian orang belum terbangun, tapi sudah banyak yang terbangun sejak
fajar tadi untuk menunaikan ibadahnya.
Aku sendiri sedang mengurus ayam dikandangnya, dan memilihi telur itik
yang akan aku jual pagi ini ke pasar.
Bilal mushalla itu batuk sebelum berbicara di corong mesjid. Berita itu
telah dikabarkan ke seentaro kampung. Aku terduduk lesu. Telur-telur yang baru
saja kupungut kuletakkan kembali ke tanah.
Kehidupan hanyalah dua mata yang saling berlawanan. Dan kita hanya bisa
memilih salah satunya. Bila aku boleh ikut memilihkannya sebuah jalan, maka
akan kupilihkan padanya sebuah persahabat erat dikedua sisi kehidupan itu. Dan
bergandengan melangkah menapaki setiap sisinya. Tapi aku tak berhak untuk itu.
“Kekayaan yang abadi itu bukanlah disini, sahabat. Dan kata-kataku tak
berlaku disana.”
Bener Meriah, Aceh 7-7-2010